Terapi Madu dalam Pandangan Seorang Dokter

Oleh : Dokter Adji Suranto SpA
( Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT) DKI Jakarta )

Hasil uji klinis :

* Madu Vs Polyurethane film pada 46 pasien luka bakar, penyembuhan lebih cepat pada kelompok yang mendapat madu.

* Madu Vs salep silver sulfadiazine pada luka bakar, dari 52 pasien, 87% sembuh dalam waktu 15 hari ; dibanding 10%

* Madu untuk luka kronis, penelitian pada 143 kasus, hanya 1 kasus dilaporkan tidak berhasil

* Sukses digunakan untuk terapi Fournier’s gangrene (gangrene pada penis & skrotum)

* Madu efektif untuk membersihkan luka yang terinfeksi

* Madu dapat menghentikan perkembangan infeksi tanpa harus membuang jaringan yang mati

* Terapi madu pada luka yang disebabkan oleh bakteri yang resisten anti biotik

* Madu efektif untuk terapi MRSA (multiple -resistant Staphylococcus aureus)

* Madu mempunyai efek debridement (Debridement merupakan suatu tindakan eksisi yang bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis maupun debris yang mengahalangi proses penyembuhan luka dan potensial terjadi atau berkembangnya infeksi sehingga merupakan tindakan pemutus rantai respon inflamasi sistemik dan maupun sepsis)

* Madu bersifat rapid deodorizes pada luka

MEMPERKUAT IMUNITAS TUBUH

* Madu menstimulasi imunitas tubuh utk melawan infeksi
* Madu menstimulasi limfosit B dan limfosit T pd kultur sel utk memperbanyak diri dan mengaktivasi neutrofil
* Madu dilaporkan merangsang monosit utk melepaskan sitokin tertentu, yg dpt mengaktivasi bbrp faktor yg terlibat dlm respons imun thd infeksi
* Derajat keasaman madu membantu aksi merusak bakteri yg dimiliki makrofag

Sumber : Rahmat Bekam

griyanatura akp

 

 

SMS/WA 085799111937 / Pin BB 238D829F
Jl. Sidoluhur 57, Laweyan, Surakarta